Lulusan SKB Jangan Dianggap Remeh

Thursday, September 11, 2008

Banyak kalangan memang mencibir dan menyepelekan kualitas anak didik jebolan dari Sanggar Kegiatan Belajar (SKB), karena dianggap kurang kualitatif dalam menjawab berbagai tantangan. Namun hal ini dibantah dengan tegas oleh Enik Yulistyowati, Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) SKB. Menurutnya di SKB Batam pendidikan jalur non formal yang kini diterapkan tidak perlu disanksikan oleh oleh masyarakat.
Sebab pendidikan non formal sejak tahun 2007-2008 telah memperoleh hak eligibilitas dari menteri pendidikan Nasional dimana lulusan baik Paket A, B dan C memperoleh hak yang sama dengan sekolah formal lainnya. Berhak melanjutkan pendidikan kejenjang lebih tinggi yang ditandai dengan pengakuan atas ijazah yang dimiliki setara dengan sekolah setingkatnya.
Sebenarnya fungsi dari pendidikan non formal adalah sebagai pengganti pendikan formal, dimana yang menjadi warga belajar adalah mereka yang putus sekolah, serta yang tidak mau lagi melanjutkan pendidikan di tingkat sekolah formal. “Sehingga tidak ada istilah bahwa SKB menampung orang-orang buangan,” tandasnya.
Buktinya, pada ujian nasional pendidikan kesetaraan (UNPK) terakhir yang soalnya dikeluarkan oleh BNSP (ujiannya setara dengan formal), pusat penilaian pendidikan kelulusan warga belajar SKB mencapai 92,31 persen. “Sedangkan sisanya yang tidak lulus karena tidak mengikuti ujian saja,” tuturnya.
Enik menjelaskan bahwa meski ada sering kasus yang agak mendeskreditkan pendidikan non formal, namun menurutnya hal tersebut bukan disebabkan oleh persoalan pengakuan izajah tetapi lebih mengarah pada atauran khusus yang dibelakukan oleh sekolah non formal atau perguruan tinggi. *** Read More.. Read more!

SKB Entaskan Kebodohan

Masalah buta aksara sebagai suatu masalah nasional sampai saat ini masih belum tuntas sepenuhnya. Berbagai usaha dalam upaya penanggulangannya masih mengalami hambatan sehingga program-program yang diluncurkan untuk menanggulanginya berupa pengorganisasian kelompok belajar keaksaraan fungsional, tampaknya belum efektif. Oleh karena itu, perlu adanya upaya-upaya lain, sehingga jumlah buta aksara dari tahun ke tahun akan makin menipis.
Lembaga yang minim perhatian ini ternyata berpotensi bisa mengentaskan masyarakat yang buta huruf, tidak berkesempatan belajar di pendidikan sekolah/formal, miskin dan masalah social lainnya di kota Batam ini, menjadi topik dalam dialog Batam Forum Batam Pos, Rabu (3/9) lalu. Terakhir, setelah banyak berbuat di Batam, lembaga ini membantu masyarakat Indonesia yang juga bekerja sebagai pembantu di Singapura mendapatkan haknya di bidang pendidikan.
Keinginan ini memang atas dorongan warga belajar yang ada di Singapura. Banyak dari mereka yang tak tamat SD-SMP-SMA. Rata-rata yang tak punya ijazah itu jadi pembantu rumah tangga di Singapura. ”Mereka (TKI) mengeluh ingin mendapat pekerjaan yang lebih baik,” ujar Enik Yulistyowati, Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Sanggar Kegiatan Belajar (SKB), Batam.
Inilah alasan mereka mau belajar lagi, ingin meningkatkan status pendidikannya. Sampai saat ini sudah ada 167 warga belajar di Singapura. Dan dimungkinkan akan terus bertambah. Sementara tutornya (guru) ada sebanyak 24 orang. Semua WNI yang menyandang lulusan S1 hingga S2. Mereka adalah relawan sehingga tidak menerima imbalan. Untuk biaya tempat belajar di Hotel Hyatt dan serba guna gereja di tanggung donatur.
”Kita tidak punya anggaran untuk itu, kita hanya memberi pelatihan pada tutornya saja,” tutur Enik yang turun ke Singapura langsung memberi pelatihan tersebut.
Setelah sukses membuat Batam dengan keberadaan lembaga pendidikan anak usia dini di kota Batam, lanjut pembina himpunan pendidik anak usia dini (Himpaudi) Batam ini, SKB juga memperluas dan memfokuskan pembukaan pendidikan keaksaraan (pemberantasan buta huruf) di pulau-pulau.
Seperti di Tanjunggundap, Pulau Tiawangkang dan Pulau Lance. Untuk pengentasan ini, pihaknya bekerjasama dengan masyarakat dan orang yang peduli pendidikan. ”Kini kita fokusnya di sini,” ucapnya.
Sampai saat ini di tiga pulau itu ada sebanyak 72 warga yang sedang mereka didik. Masing-masing dididik oleh tiga tutor dari warga sekitar yang juga masih mengikuti paket setara SMA. Masing-masing warga belajar berasal dari beragam usia.
Menurut Enik, setiap warga belajar dibagi dua bagian yaitu usia sekolah dan usia dewasa atau yang sudah bekerja. Masing-masing bagian dipecah dalam tiga paket. Yakni paket A setara SD, paket B setara SMP dan paket C setara SMA. Sementara jam masuk belajarnya untuk usia sekolah belajar dari Senin sampai Jumat. Sedangkan untuk usia dewasa hanya belajar pada hari Minggu saja. Dan kebanyakan mereka juga mengambil ekstrakurikuler bahasa inggris dan komputer.
Biaya yang dikenakan juga cukup murah. Untuk paket B dan C setara SMP dan SMA hanya partisipasi dari orang tua warga belajar maupun warga belajar itu sendiri. Tapi yang jelas kata Enik, biayanya tidak sebesar seperti di sekolah formal. Sedangkan paket A setara SD semua digratiskan.
Biaya paket B setara SMP hanya Rp 20 ribu sebulan, itupun tidak sampai 50 persen yang mau bayar. Biaya pendidikan yang biasanya dibayarkan oleh Badan Amil Zakat (BAZ) Kota Batam juga sudah tidak pernah lagi. Bantuan beasiswa dari APBD dan pihak swasta pun tak pernah ada. Ironisnya, anggaran sebesar 20 persen dari APBD untuk pendidikan juga tak ada singgah untuk program SKB. Kecuali anggaran untuk pemeliharaan potong rumput, air, listrik dan itu pun masih kurang.
Sampai saat ini SKB hanya mengharapkan bantuan pusat yang sifatnya insidensial. Yang jelas hanya sepeda motor untuk tutor kunjung. ”Padahal kita juga harus bayar honor tutor. Sementara tutor baru hanya mendapat insentif Rp 200 ribu dan tutor lama Rp 500 ribu dari pemerintah. Kita justru sering nombok menalangi biaya kegiatan. Mau paksa warga belajar tidak bisa, karena disini hati nurani yang bicara,” ungkapnya.
Tahun 2006 lalu, pernah satu kali Dinsos memberikan beasiswa kepada sebanyak 50 pengamen jalanan. Masing-masing menerima sebesar Rp850 ribu. ”Saat itu juga kita ajukan dan berhasil memerima bantuan alat musik dari pusat. Sampai sekarang alat itu masih digunakan mereka untuk latihan musik,” katanya.
Masih menurut Enik, permohonan anggaran untuk SKB di ABPD sudah sering mereka ajukan. Sayangnya upaya itu belum membuahkan hasil. Bahkan SKB kini kekurangan lokal saking banyaknya warga yang ingin belajar. Lonjakan ini pun mengakibatkan SKB kekurangan kelas. ”Kita butuh 10 kelas, yang ada baru empat kelas,” katanya.
Terakhir, kata mantan Kasi kerjasama dunia dan industri Dinas Kota Batam tahun 2002 ini masalah yang dihadapi mereka di SKB Batam adalah disebabkan beberapa hal. Yakni motivasi belajar kurang mayoritas untuk anak usia sekolah, partisipasi orangtua rendah dan perhatian pemerintah juga kurang khususnya pada anggaran.
Untuk itu, Enik berharap agar tingkat buta aksara di kota Batam bisa tuntas, pemerintah harus lebih fokus memberikan perhatian untuk SKB.
Perlu diketahui, SKB Batam yang minim perhatian dari pemerintah justru terkenal diseantero nusantara. Setiap kegiatan SKB nasional terutama pada PAUD, selalu SKB Batam akan menjadi percontohan. Dia juga berpesan bagi siswa yang tidak lulus pada ujian nasional yang lalu, agar segera mendaftar ke SKB untuk mengikuti ujian nasional kesetaraan periode ke dua. ”Tapi sebelumnya masing-maisng siswa harus mendapat pembekalan di SKB,” katanya. Read More.. Read more!

Menari, Abadikan Budaya

Saturday, September 6, 2008

GEDUNG Sanggar Budaya Medang Sirai berbeda dari biasanya. Dindingnya yang dulu pudar, kini berganti warna putih seperti salju. Plafonnya juga tak lagi membingkai tiga ruangan di gedung itu. Beberapa kursi dan sofa ditutupi kain agar tak terkena debu. Gedung berlantai tiga di kawasan perumahan Duta Mas Batam Centre sedang direnovasi.
Di situlah, Tari Bancuh dikemas menjadi sebuah sajian tarian kreasi yang indah. Tarian yang berhasil membawa Sanggar Budaya Medang Sirai, kontingen dari Batam mewakili Kepri tampil sebagai nominasi penyaji unggulan terbaik pada parade tari dan pawai budaya nusantara yang diikuti 29 provinsi pada 15-19 Agustus lalu di Jakarta.
Budi, terlihat duduk bersila berhadap-hadapan dengan penari-penari baru, ketika Batam Pos bertandang ke sanggar itu, Kamis (21/8) malam. Di lantai dua seukuran ruko itu, mereka sedang latihan, sementara pengurus sanggar dan pemain musik terlihat duduk mengobrol satu dengan yang lain.
Tak ada alunan musik Melayu yang mengiringi latihan itu. Alat musik tradisional yang biasa mengiringi tidak terlihat di sana. Katanya, semuanya sedang disimpan di rumah masing-masing pemain setelah pulang dari Jakarta. Lagipula malam itu latihan khusus untuk olah tubuh sebelum masuk latihan olah tari dan musik.
Budi melatih dalam materi tari berbeda. Penampilannya sungguh bagus, karena ia memang koreografer tari sekaligus pelatih aerobik. Tangannya gemulai melambai halus. Tiap gerak kepalanya yang dikendalikan leher, begitu santun. Lantas gerak itu pun ditiru penari pemula (baru).
Saat latihan terlihat betapa keukeuh-nya seorang Budi yang dengan sedikit salah, bisa saja penarinya diminta mengulang berkali-kali. Bagi dirinya kualitas latihan sangat penting, makanya tidak seorang pun bisa main-main saat berlatih dengannya. Sehingga hasilnya bisa dilihat saat pagelaran.
Batam Pos yang saat itu ikut latihan meski tidak tuntas, tak bisa membayangkan saat latihan butuh kesabaran. Olah tubuh dan olah tari itulah yang dilatih berulang-ulang hingga penari pemula benar-benar tidak lupa gerakannya. Bakat, kesabaran dan kemauan belajar yang tinggi minimal harus dimiliki untuk bisa tampil bagus.
Gerakan tarian itu sepertinya sudah sering terlihat. ”Tari ini adalah sekapur sirih. Minggu depan, penari kami diminta mengisi acara. Ya...seperti inilah kalau sedang latihan. Bagi yang tak sabar mungkin tak bisa bertahan,” tutur Budi sembari meminta penarinya istirahat lantas berbincang dengan Batam Pos.
Menjadi penari kata Budi memang harus mempunyai talenta khusus. Artinya sudah memiliki bakat dari lahir. Setelah itu, barulah diasah dengan mengikuti kelas-kelas khusus menari, sehingga kemampuan menari meningkat dan menjadi penari yang terampil. Jika hanya mengandalkan bakat dari lahir saja tidak akan cukup. Harus terus dilatih.
Sanggar Medang Sirai baru berdiri Maret 2008, menjelang parade tari yang digelar Dinas Pariwisata Pemko Batam. Berdirinya sanggar ini, atas ide pimpinan sanggar Juniati, yang ingin mempertahankan nilai-nilai budaya Melayu. Nama Medang Sirai sendiri dipilih dari sebuah nama kayu yang biasa dijadikan untuk penyanggah (kerangka) kapal kayu.
”Kami ingin budaya Melayu tidak hilang, makanya saya dirikan sanggar dan memilih nama dari nama kayu Medang Sirai yang kokoh,” kata Juniati yang juga guru sekolah ini.
Juru bicara sekaligus sekretaris Sanggar Medang Sirai S Adi menambahkan sejak berdiri, sudah ada enam tarian garapan yang mereka kreasi. Tari Bancuh adalah kreasi mereka yang ke-enam dalam empat bulan terakhir ini. Menciptakan satu tarian garapan, mereka butuh berlatih dua kali dalam seminggu, Sabtu dan Minggu. Kecuali kalau mau ikut lomba, ritme latihan diperbanyak menjadi tiga kali dalam seminggu.
Mereka memilih latihan di malam hari. Sebab penari tingkat satu (yang selalu tampil dalam iven besar) rata-rata pekerja, kecuali tingkat dua dan tiga yang memang masih pelajar SD, SMP dan SMA. Setelah berhasil menciptakan satu tarian kreasi yang mengharumkan nama Kepri di tingkat nasional, Sanggar Medang Sirai terus berkreasi.
Setiap tarian yang mereka sajikan selalu mengusung tema bernuansa Melayu. Misalnya, tari Bancuh, tarian garapan Melayu kontemporer dengan formasi sembilan penari, empat pria dan lima wanita. Bancuh berasal dari istilah Melayu yang artinya perpaduan atau persatuan.
Tarian ini mengisahkan sisi kehidupan perkampungan nelayan di pulau Panjang (pulau tak jauh dari Galang).
Bila musim angin utara tiba, cuaca kurang bersahabat bagi nelayan pulau Panjang untuk melaut. Sebagai penghasilan tambahan keluarga, maka masyarakat pulau Panjang bersatu untuk membuat sapu lidi kemudian dijual ke Batam.
”Hasil observasi kami di lapangan ini kami padu menjadi satu tarian. Agar tema tarian tidak hilang, sapu lidi yang dihiasi cat warna-warni dijadikan sebagai properti, juga untuk memperindah tarian,” tutur Adi.
Keberadaan sanggar budaya di Kepri bertujuan mempertahankan nilai budaya. Tentu hal ini sangat membutuhkan perhatian dari pemerintah. Namun sampai saat ini menurut Adi perhatian itu masih sangat minim. Apalagi saat-saat mengikuti iven bertarap nasional seperti mereka ikuti baru-baru ini.
Padahal keberangkatan mereka ke tingkat nasional membawa nama Kota Batam. Satu daerah junjungan yang jadi daerah pertaruhan. Bertaruh, apakah mereka mampu menunjukkan jati diri mereka sebagai sebuah bandar madani. Tetapi dukungan seperti materi maupun moral (semangat) dari pemerintah masih kurang.
Bahkan perhatian untuk persiapan seperti datang memberikan saran dan pembinaan pun kurang. Selain ini, persoalan dana juga menyebabkan perwakilan Batam ketingkat nasional ini kelimpungan dan nyaris tak berangkat. Tapi berkat perjuangan dan semangat yang tinggi akhirnya mereka bisa berangkat.
”Ini menyedihkan, dana kontingen tidak terprogram dengan baik. Sementara kami tak punya kekuatan untuk mengumpulkan dana. Mudah-mudahan ke depan hal ini tidak terulang lagi. Kita berharap perhatian pemerintah bisa lebih besar bagi siapapun yang mewakili Batam ke depannya,” pintanya.
Meski minim perhatian, namun terpilihnya sebagai penyaji unggulan terbaik membawa semangat yang tinggi bagi Medang Sirai. Sebagai sanggar baru mereka justru akan membuka kelas untuk pelatihan penari-penari anak-anak sekolah. Mereka ingin kaum muda lebih tertarik menyaksikan pementasan tari.
Syukur-syukur mereka akan tergugah untuk melakoni seni tari. Dalam melakukan apapun, pasti ada kendala yang harus dihadapi.
Tak terkecuali dalam mengembangkan seni tari, khususnya untuk remaja. Mungkin karena perubahan jaman membuat mereka tidak tahu bagaimana seni tari itu.
Minimnya fasilitas dan informasi membuat mereka men-judge tarian tradisional itu kuno. Maka itu Medang Sirai mengajarkan tarian yang tidak terlalu sulit. Awalnya mengajarkan tari tradisional yang sederhana, lalu tingkat kesulitannya ditambah. Karena untuk melakukan inovasi - inovasi dalam gerakan tari, penari harus lebih dulu menguasai tradisional.
”Namun untuk hal ini dibutuhkan peran serta dari pemerintah sebagai fasilitator, dengan memberikan ruang dan waktu serta bantuan finansial untuk sanggar mana pun sehingga dapat menampilkan hasil karya pada seni tari,” ujarnya. *** Read More.. Read more!

Cerita humor, pesan Tuhan soal hari kiamat

Tuhan memanggil Presiden AS, Cina, dan Indonesia untuk dimarahi. Dari Amerika muncul George Bush. Dari Cina datang Presiden Hu Jintao. Dari Indonesia diutus Jusuf Kalla; SBY nggak berani soalnya.

Cerita humor ini dikirim oleh “Ningky and Friends” dari Medan ke Blog Berita

Setelah habis-habisan mencela tindakan pemimpin dunia ini, Tuhan menyampaikan bahwa Ia sudah muak dan memutuskan dalam tiga hari dunia akan kiamat. Tiga pemimpin ini disuruh kembali ke negaranya untuk menyampaikan keputusan Tuhan kepada rakyat mereka masing-masing. Ketiga pemimpin pulang ke negara masing-masing sambil putar otak bagaimana menyampaikan kabar buruk ini kepada rakyatnya.

Di depan Kongres Amerika dan disiarkan langsung di TV, Presiden Bush mencoba, “Congressmen, ada kabar baik dan ada kabar buruk. Pertama kabar baik dulu ya. Tuhan itu benar-benar ada, seperti yang kita yakini. Kabar buruk: Tuhan akan memusnahkan dunia ini dalam tiga hari.”

Hasilnya payah, terjadi kerusuhan dan penjarahan di mana-mana.

Di depan Kongres Partai Komunis Cina, Hu Jintao memodifikasi taktik Bush: “Kamerad, ada kabar baik dan ada kabar buruk. Pertama kabar baik dulu ya. Ternyata Marx, Stalin, Ketua Mao, dan para pendahulu kita salah,Tuhan itu benar-benar ada. Kabar buruk: Tiga hari lagi Tuhan akan mengkiamatkan dunia ini.”

Hasilnya lumayan, orang-orang Cina lari, heboh dan menangis ketakutan dan membanjiri tempat ibadah, mereka mau bertobat.

Yang paling sukses Jusuf Kalla.

Di depan sidang paripurna DPR yang disiarkan langsung oleh tivi-tivi swasta, dia tersenyum sumringah. “Saudara sebangsa dan setanah air, saya membawa dua kabar baik. Kabar baik pertama: Sila pertama Pancasila kita sudah benar, bahwa Tuhan itu benar-benar ada. Kabar baik kedua: Dalam tiga hari ini semua masalah energi, pangan, kemiskinan, terorisme, dan penderitaan di Indonesia akan segera berakhir. Benar-benar berakhir.”

Sukses besar. Seluruh rakyat larut dalam pesta dangdutan dan pawai di mana-mana. ***

copy dari www.blogberita.net Read More.. Read more!

10 Kepribadian Pria yang Meluluhkan Hati Wanita

Tuesday, September 2, 2008

TERNYATA untuk memikat hati wanita idamanmu, ada beberapa hal yang menjadi pertimbangan. Salah satunya ialah kepribadian seseorang. Melalui kepribadian yang baik, si dia tak akan ragu memilihmu.

Nah, sebelum kamu memikat hati sang pujaan hati, sebaiknya kenali dulu beberapa kepribadian tersebut.

1. Ketulusan menempati peringkat pertama sebagai sifat yang paling disukai oleh semua wanita. Ketulusan membuat orang lain merasa aman dan dihargai karena yakin tidak akan dibodohi atau dibohongi. Pria yang tulus selalu mengatakan kebenaran, tidak suka mengada-ada, pura-pura, mencari-cari alasan atau memutarbalikkan fakta.

2. Beda dengan rendah diri yang merupakan kelemahan, sifat rendah hati justru mengungkapkan kekuatan. Hanya pria yang kuat jiwanya yang bisa bersikap rendah hati. Ia seperti padi yang semakin berisi, semakin menunduk. Pria yang rendah hati bisa mengakui dan menghargai keunggulan orang lain. Ia bisa membuat orang yang di atasnya merasa oke dan membuat orang yang di bawahnya tidak merasa minder.

3. Kesetiaan sudah menjadi barang langka dan sangat tinggi harganya. Pria setia selalu bisa dipercaya dan diandalkan. Dia selalu menepati janji, punya komitmen yang kuat, rela berkorban, dan tidak suka berkhianat. Karena itu, pria dengan kepribadian seperti ini sudah tentu akan dipilih wanita.

4. Pria yang bersikap positif selalu berusaha melihat segala sesuatu dari kacamata positif, bahkan dalam situasi yang buruk sekalipun. Dia lebih suka membicarakan kebaikan daripada keburukan orang lain, lebih suka bicara mengenai harapan daripada keputusasaan, lebih suka mencari solusi daripada frustasi, lebih suka memuji daripada mengecam.

5. Karena tidak semua orang dikaruniai temperamen ceria, maka keceriaan tidak harus diartikan ekspresi wajah dan tubuh, tapi sikap hati. Pria yang ceria adalah mereka yang bisa menikmati hidup, tidak suka mengeluh, dan selalu berusaha meraih kegembiraan. Dia bisa mentertawakan situasi, orang lain, juga dirinya sendiri. Dia punya potensi untuk menghibur dan mendorong semangat orang lain.

6. Pria yang bertanggung jawab akan melaksanakan kewajibannya dengan sungguh-sungguh. Kalau melakukan kesalahan, dia berani mengakuinya. Ketika mengalami kegagalan, dia tidak akan mencari kambing hitam untuk disalahkan. Bahkan kalau dia merasa kecewa dan sakit hati, dia tidak akan menyalahkan siapapun. Dia menyadari bahwa dirinya sendirilah yang bertanggung jawab atas apapun yang dialami dan dirasakannya.

7. Rasa percaya diri memungkinkan seseorang menerima dirinya apa adanya, menghargai dirinya dan menghargai orang lain. Pria yang percaya diri mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan dan situasi yang baru. Dia tahu apa yang harus dilakukannya dan melakukannya dengan baik.

8. Kebesaran jiwa dapat dilihat dari kemampuan seseorang memaafkan orang lain. Seorang pria yang berjiwa besar tidak membiarkan dirinya dikuasai oleh rasa benci dan permusuhan. Ketika menghadapi masa-masa sukar dia tetap tegar, tidak membiarkan dirinya hanyut dalam kesedihan dan keputusasaan.

9. Pria yang easy going menganggap hidup ini ringan. Dia tidak suka membesar-besarkan masalah kecil. Bahkan berusaha mengecilkan masalah-masalah besar. Dia tidak suka mengungkit masa lalu dan tidak mau khawatir dengan masa depan. Dia tidak mau pusing dan stres dengan masalah-masalah yang berada di luar kontrolnya.

10. Empati adalah sifat yang sangat mengagumkan. Pria yang berempati bukan saja pendengar yang baik, tapi juga bisa menempatkan diri pada posisi orang lain. Ketika terjadi konflik, dia selalu mencari jalan keluar terbaik bagi kedua belah pihak, tidak suka memaksakan pendapat dan kehendaknya sendiri. Dia selalu berusaha memahami dan mengerti orang lain.

rileks Read More.. Read more!

Kesejahteraan Perlu Diperhatikan

Thursday, August 21, 2008

LEGIUN Veteran Republik Indonesia, Batam, meminta pada pemerintah agar memperhatikan kesejahteraan seluruh anggota veteran di Batam. Selain itu, Legiun Veteran ini juga meminta pada pemerintah untuk memberikan mereka fasilitas kantor. Selama ini hanya berkantor di sebuah rumah sempit milik Ketua LVRI Batam, Karim di Bengkong Kolam Blok G No 01 Kelurahan Sadai.
Sejak diangkat menjadi Ketua Macab LVRI Batam, Karim pernah mengusulkan bangunan di depan Kodim bisa menjadi kantor LVRI Batam. Tapi sampai sekarang belum terealisasi, karena setelah direnovasi bangunan itu langsung digunakan pihak Kodim 0316.
Alasan lain, tingginya biaya pemeliharaan kantor juga membuat LVRI memilih berkantor di rumah. Dana untuk kantor kan tinggi, trus siapa yang danain, sementara APBD yang diposkan untuk LVRI sangat minim. Inilah alasan LVRI meminta pemerintah perhatikan kesejahteraan juga kantor tempat mereka berkumpul.
”Mestinya pemerintah bisa memahami, meski (kantor) kecil, kami akan senang menerimanya, karena bisa untuk menyimpan dokumen,” ujar Karim dalam kegiatan Batam Forum yang digelar Batam Pos Rabu (14/8) lalu.
Bagi veteran perjuangan yang telah dilakukan masa itu murni untuk membela negara, tanpa mengharapkan imbalan jasa atau sekadar penghargaan. Mereka tidak berharap harus mengemis untuk mendapatkan penghargaan dan pengakuan dari negara sebagai pahlawan yang telah berjuang. Meski demikian sangat diharapkan veteran diberi tunjangan kehormatan berbentuk rupiah.
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono juga setuju usulan legiun veteran agar veteran diberikan dana kesejahteraan. “Saya setuju, itu sebagai apresiasi bangsa pada pejuangnya, tepat itu disebut dana kesejahteraan,” kata Susilo Bambang Yudhoyono, dalam pidato sambutannya membuka Kongres IX LVRI di Istana Bogor kala itu.
Yudhoyono mengatakan negara wajib memikirkan kesejahteraan veteran. Dana kesejahteraan itu bukan imbalan bagi pejuang akan tetapi sebagai apresiasi atas perjuangannya. “Pejuang tidak pernah meminta imbalan,” ujarnya. Akan tetapi, pemberian dana itu akan disesuaikan kemampuan negara.
Presiden mengatakan, saat ini Menteri Pertahanan dan Menteri Sosial sedang menyusun revisi Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1967 tentang Legiun Veteran Republik Indonesia. Dana kesejahteraan dan perluasan keanggotaan veteran itu akan dimasukkan dalam revisi undang-undang itu. *** Read More.. Read more!

Operasi Pasien dengan Peralatan Seadanya

Kisah Srikandi di Medan Perang

Pahitnya perjuangan melawan penjajah ini juga dirasakan oleh Maisaroh (80). Ibu dari 13 anak ini pada perjuangannya memiliki tugas berat sebagai petugas medis. Perjuangan istri dari (alm) RA. Manaf (pangkat terakhir Komandan Korem Bengkulu tahun 1973) tersebut lebih banyak bertugas di Palembang. Sebelumnya Maisaroh memang tinggal di Jambi, karena ikut orang tuanya yang saat itu bertugas sebagai Kepala Kantor Pos. Namun tak lama dari itu, orang tuanya dipindah tugaskan ke Palembang. Dan Maisaroh pun ikut pindah ke Palembang dan langsung masuk akademi keperawatan di Rumah Sakit Benteng Palembang.
Setelah lulus dari sekolahnya, Maisaroh bertugas sebagai mantri mewakili dokter dan langsung membantu mengobati para pejuang yang terluka. Pengalaman pahit mulai dirasakan Maisaroh ketika Jepang masuk Palembang tahun 1942-1944. ”Kami diusir dan harus keluar dari Kota Palembang,” katanya.
Ia mengatakan jumlah mereka yang harus mengungsi mencapai ratusan orang. Saat itu mereka bingung mencari perlindungan. Tujuan satu-satunya adalah hutan. Untuk sampai di hutan, kata Maisaroh mereka harus menempuh perjalanan tujuh hari tujuh malam.
Seingat Misaroh dari ratusan pasien yang mengungsi, hanya sedikit yang selamat. Sebab ditengah jalan, peluru meriam dari kapal-kapal tentara penjajah di sungai Musi terus menghantam. Mayat pun bergelimpangan dan banyak korban yang kehilangan anggota tubuhnya. ”Korban ada yang tangan atau kakinya putus dan lainnya. Saya tidak bisa membayangkan kengerian waktu itu mengoperasi tangan seorang pasien dengan peralatan seadanya,” ujar ibunda dari Danlanal Batam, Letkol Laut Muhammad Faisal ini.
Perjuangan Maisaroh saat itu sangat berat, apalagi hanya dia satu-satunya wanita yang bisa membawa mobil. Sehingga untuk membawa para pasien yang terluka dari lokasi peperangan hingga ke rumah sakit kadang harus dilakukan sendiri. ”Waktu itu hanya saya yang bisa membawa mobil. Maklum waktu itu kami sudah punya mobil,” katanya.
Pengalaman menarik juga yang tak pernah dilupakannya. Yakni pernikahannya dengan almarhum suaminya, RA. Manaf. Menurut Maisaroh, pernikahan mereka tanpa perkenalan dan pacaran. ”Begitu dikenalin bapak hari itu langsung dinikahkan,” katanya. Sedihnya, setelah menikah, Maisaroh harus ditinggalkan oleh suaminya karena harus pergi bertempur. Maisaroh baru bisa ketemu suaminya setelah tiga bulan. ”Itu pun dapat kabarnya sedang sakit, tapi alhamdulillah kami masih sempat menjalani hidup bahagia,” katanya.*** Read More.. Read more!