Jalur Penumbuh, Sekaligus Pembunuh

Saturday, October 25, 2008

Oleh RATNA SRI WIDYASTUTI

Gambaran kota-kota Jawa pada masa Herman Willem Daendels sudah jauh berbeda dibandingkan dengan sekarang. Sebagian kota yang dianggap penting waktu itu, yang muncul di peta kuno Pulau Jawa, Plan deL’Ile de Jav, bertahun 1813, kini tidak tertera lagi di peta-peta sekarang. Panarukan adalah salah satu di antaranya.

Padahal, jika menilik berbagai catatan sejarah, Panarukan merupakan kota pelabuhan yang diperhitungkan waktu itu. Ujung Jalan Raya Pos (De Grote Postweg) yang digagas Daendels tertuju pada kota ini. Kota yang pada abad ke-18 dihuni sekitar empat ribuan jiwa ini jadi pelabuhan ekspor penting di wilayah timur Jawa. Beraneka komoditas perkebunan, seperti kopi dan tebu, dikirim melalui kota bandar ini.

Kini, nasibnya berubah setelah peran pelabuhannya kalah bersaing dengan Surabaya karena pendangkalan. Namanya hanya melekat pada nama kota kecamatan, bagian dari Kabupaten Situbondo. Sepertinya jalur Jalan Raya Pos tidak punya peran apa-apa dalam membantu perkembangannya seperti kota-kota pelabuhan lainnya di pesisir utara Jawa.

Lain ceritanya dengan Kota Bandung. Namanya pun tidak tertera pada peta buatan Daendels itu. Hanya disebut bagian dari daerah Priang’en atau Priangan. Kini Bandung justru tumbuh menjadi kota besar, bahkan menjadi pusat pemerintahan Provinsi Jawa Barat.

Jalan Raya Pos yang membentang dari ujung barat hingga ujung timur pesisir utara Jawa merupakan cikal bakal pembuka keran pasar di daerah-daerah Jawa. Dengan terbukanya akses jalan, transportasi dari daerah produsen ke daerah konsumen, dari wilayah penyuplai tenaga kerja ke wilayah penerima, dan dari kota yang surplus modal ke yang membutuhkan semakin lancar. Jalan inilah yang kelak membuat kota-kota Jawa berubah. Pusat-pusat pertumbuhan ekonomi mengelompok, teraglomerasi, berkiblat pada jalan ini.

Menurut Arthur O’Sullivan dalam bukunya, Urban Economics (1996), aglomerasi ekonomi kota-kota terjadi akibat daya tariknya dalam menyedot sumber daya ekonomi dari daerah lain. Aktivitas ekonomi yang semula tersebar dapat terkonsentrasi di sekitar kota-kota yang dilalui jalur transportasi. Kota-kota ini dapat tumbuh cepat karena adanya penurunan ongkos transportasi. Kota yang memiliki banyak industri biasanya tumbuh lebih cepat karena adanya pengumpulan atau konsentrasi modal.

Bukti adanya proses ”penggerombolan” kota-kota pada jalur Daendels ini dapat ditunjukkan dengan mengolah data pertumbuhan ekonomi perkotaan seluruh Jawa selama enam tahun terakhir dengan statistik spasial (lihat peta). Wilayah-wilayah yang maju dan kurang maju mengelompok terpisah. Daerah-daerah maju mengelompok tersendiri, sebaliknya daerah yang ”lamban” ekonominya juga demikian.

Daerah-daerah maju bergerombol di tiga wilayah, wilayah Jakarta dan sekitarnya, Bandung sekelilingnya, serta Surabaya dan tetangga-tetangganya. Ketiga kawasan inilah yang menjadi pusat pertumbuhan Jawa, memengaruhi daerah-daerah sekitarnya. Ketiganya juga terletak di jalur ”pita” Daendels.

Ketiga wilayah ini memang memiliki kelebihan yang tidak dimiliki wilayah lain. Jakarta telah menjadi pusat kegiatan politik, budaya, dan ekonomi sejak zaman kolonial. Kota ini juga menjadi titik pengumpulan barang-barang yang akan diekspor sejak era itu melalui pelabuhannya. Kegiatan itu berlanjut hingga saat ini.

Kawasan industri berskala besar bermunculan dan melebar ke daerah tetangganya, Bekasi, Karawang, Purwakarta, Tangerang, dan Serang. Sektor industri pun melonjak tajam di lokasi-lokasi tersebut. Bahkan, roda perekonomian Kabupaten Bekasi ditopang oleh industri sampai dengan 80 persen.

Demikian juga dengan Surabaya. Pelabuhan ekspornya telah berjalan sejak dulu. Industri-industri baru pun tumbuh ”subur” di sekitarnya hingga kini, seperti Gresik, Sidoarjo, Pasuruan, dan Probolinggo. Dampaknya pun terasa. Terakhir ekonomi kawasan ini bertumbuh rata-rata 5 persen per tahun. Semakin jauh dari kawasan ini, semakin rendah pula pengaruh pertumbuhannya, contohnya Situbondo yang tumbuh hanya sekitar 4 persen

Meski berbeda dengan Jakarta dan Surabaya yang memiliki pelabuhan ekspor, Bandung mampu menjadi pusat pertumbuhan di wilayah pedalaman. Kota ini pun telah menjadi ”bandar pengumpul” komoditas hasil perkebunan sekaligus penopang kebutuhan lainnya di wilayah pedalaman sejak dulu. Akibatnya, tumbuh pula industri-industri penopang di sekitarnya, seperti di Kabupaten Bandung dan Cimahi. Pertumbuhan ekonominya pun melesat, rata-rata lima tahun terakhir mencapai 5,3 persen.

Menjadi daerah yang tumbuh lebih cepat dan dipenuhi dengan pabrik mendatangkan akibat bagi ketiga kota ini. Kebutuhan tenaga kerja yang tinggi mengundang para pengais rezeki untuk terus ”menyemut” ke ketiga tempat pertumbuhan ekonomi Jawa ini. Pakar ekonomi, Mudrajad Kuncoro (2002), menyebutkan, industrialisasi menjadi kekuatan utama di balik urbanisasi yang cepat di kawasan Asia pada tahun 1980-an. Urbanisasi terus terjadi di ketiga daerah ini dan akhirnya ikut memutar sektor-sektor perekonomian lainnya.

Jumlah penduduk terus membengkak. Bandung dan Surabaya, yang menurut catatan Thomas Stamford Raffles pada 1815 hanya berpenduduk 20.000-an orang, kini dihuni oleh dua jutaan jiwa. Jakarta lebih mencengangkan, penduduknya bertambah 180 kali lipat. Orang berduyun-duyun datang bukan hanya dari Jawa, melainkan juga dari seluruh penjuru Tanah Air.

Bukan hanya ketiga kawasan itu yang bertumbuh. Jalur Daendels telah pula menarik kota-kota yang dilaluinya ikut ”berbiak”. Arus urbanisasi di jalur ini pula yang telah membuat komposisi penduduk Jawa akhirnya berubah. Jika 200 tahun lalu daerah-daerah di jalur ini dihuni sekitar 1,9 juta jiwa atau 43 persen dari seluruh penduduk Jawa, kini telah dipadati 66,2 juta jiwa (53 persen) penduduk. Bertambah 12 juta orang dalam kurun dua abad, setara dengan gabungan jumlah penduduk Jakarta dan Bekasi.

Pisau bermata dua telah diciptakan Daendels. Jika suatu kota mampu memaksimalkan fungsi jalan yang telah dirintisnya sebagai alat pembuka pasar bagi kota lain, peluang untuk tumbuh dan membesar akan terbuka lebar. Sebaliknya, jika tidak, meskipun sebuah kota dilewati jalan penting ini, ia tidak akan berarti apa-apa. Jalur ini pun telah menjadikan ekonomi Jawa timpang. Bisa seperti Bandung, dapat pula seperti Panarukan.

Sumber: Kompas, Jumat, 29 Agustus 2008. Read More.. Read more!

Berharap Rumahnya Dibangun di Lingkungan Sekolah

Penjaga Sekolah yang Mengabdi di SMP Negeri 21 Batam

MAHALNYA biaya di Batam mengharuskan Darwoto, rekan Supar mengungsikan keluarganya ke kampung halamannya. Warga asal Banyumas, Jawa Tengah ini mengaku istrinya yang pulang terakhir dari Batam.

”Lagipula anak-anak perlu perhatian ibunya,” katanya penuh harap anaknya bisa terurus dengan baik. Sudah dua bulan ini, pria berusia 35 tahun ini hidup sebagai anak kos.
Memang tidak semua orang memiliki kemampuan untuk menekan pengeluaran secara maksimal. Sehingga mampu menghimpun banyak duit di buku tabungan untuk keperluan penting dan kebutuhan mendesak di masa depan.
Faktor gengsi dan hobi acap kali menjadi penyebab banyak uang yang hilang untuk sesuatu yang kurang penting yang mengalahkan akal sehat.
Apalagi bagi seorang lelaki yang jauh dari keluarganya, seperti Darwoto. Namun Darwoto punya cara sendiri bagaimana menghemat gajinya agar sisanya bisa dikirim kepada keluarganya di kampung.
Anak Darwoto sudah dua, satu Elinda Rahmadani (9) dan Latif Hanifuddin (4). Biaya hidup istri dan dua anaknya di kampung juga berharap dari gaji sisa potongan biaya hidup Darwoto di Batam. Dengan gaji sebesar 960 ribu dari komite sekolah, penjaga sekolah ini memang hampir tak bisa melakukan apa-apa. Untuk urusan makan pun dia langsung serahkan ke pemilik rumah sekaligus dengan uang kontrakan kamarnya.
”Kalau mau masak sendiri gajinya pasti tidak cukup, karena harga-harga sembako sudah lebih gesit meroket. Daripada repot saya bayar saja Rp300 ribu setiap bulan sama makannya,” akunya.
Dengan cara ini, Darwoto baru bisa mengirimkan sisanya ke kampung, itupun tidak semuanya. ”Uang di kantor juga harus ada buat jaga-jaga, siapa tahu kita jatuh sakit,” katanya.
Selama setahun menjadi penjaga sekolah di SMP Negeri 21, dia melihat ada satu hal yang kurang dan diharapkannya. Ya... rumah penjaga sekolah belum ada dibangun di sekolah itu. Ia sangat berharap pihak sekolah maupun pemerintah bisa membangun rumah di lingkungan sekolah sebagai tempat tinggalnya. ”Ini untuk kepentingan sekolah juga,” ujarnya.
Selama ini, kata Darwoto, pihak sekolah mempekerjakan satu orang khusus untuk jaga malam. Meski demikian Darwoto dan Supar masih sering datang ikut membantu jaga malam. ”Tapi biasanya kami tidak sampai pagi. Jam 12 malam kami sudah pulang, seterusnya dilanjutin yang jaga malam sendirian,” ungkapnya.
Luasnya lahan memang tidak sebanding dijaga oleh satu orang. Jadi ada baiknya juga rumah penjaga sekolah ada di bangun di lingkungan sekolah. Sehingga siang malam sekolah tetap terjaga. ”Kalau terjadi apa-apa juga bisa cepat, dan jika guru membutuhkan kita, juga bisa cepat,” katanya.
Selain berharap mendapat rumah penjaga sekolah, pada akhirnya mereka juga berharap ada jaminan hari tua. ”Nanti kalau sudah lama bekerja disini, inginnya bisa diangkat jadi pegawai negeri, supaya tua nanti tidak terlantar,” harapnya. Jika sudah pegawai negeri, tentu dapat menikmatinya ketika pensiun tiba.
Kalau seperti ini terus sampai usia senja, tentu tidak ada mencoba menikmati uang pensiun dan tetap membanting tulang. Maka besar harapan saya kepada pemerintah daerah agar memperhatikan para penjaga sekolah. *** Read More.. Read more!

Penjaga Sekolah juga Penjaga Impian Siswa

Sebagai seorang penjaga sekolah, pribadi Supar telah terlatih untuk bertanggung-jawab atas tugas dan perannya, baik di dalam sekolah maupun keluarga. Pria yang satu ini juga merupakan sosok penjaga sekolah yang begitu memperhatikan siswa-siswa di sekolah.
”SEBAGAI seorang penjaga sekolah dan punya keluarga, tanggung jawabnya tidak hanya sampai di sana saja. Tapi 800-an siswa yang ada di sini juga bagian dari tanggung jawab kami,” begitulah pria ini mengibaratkan betapa pentingnya tugas yang diembannya.
Cuaca belakangan ini memang tidak mendukung bagi mereka yang bekerja di lapangan. Begitu juga Rabu (15/10) siang, ketika Batam Pos berkunjung ke SMP Negeri 21 Batam. Gerimis turun. Tapi Supar tidak begitu menggubris gerimis tersebut.
Pria kelahiran Purbalingga, Jawa Tengah 40 tahun silam ini asyik saja memotong ilalang yang tumbuh di lahan sekolah itu. Dia menginginkan pekerjaannya hari itu cepat selesai.
Sebab masih banyak tugas di sekolah itu yang masih menantinya. Mulai menyapu bekas bungkus makanan yang dibuang sembarang oleh para siswa, kemudian merapikan taman, memperbaiki kursi rusak dan lainnya. Sayang, niat Supar tiba-tiba dihentikan oleh hujan. Ia pun memilih istirahat sejenak di kantin sekolah. Tapi karena hujan turun hingga sore, ia pun menunda pekerjaanya itu untuk esok hari.
Darwoto Jarwin, rekannya, yang baru membersihkan rumput di taman pun ikut bergabung. Saat mengobrol dengan Batam Pos, siswa SMP 21 Batam itu terlihat lalu lalang. Spontan dari mulut Supar melontarkan kata-kata yang bisa dibanggakan anak-anaknya. Ia mengatakan pendidikan adalah harga mati dan tak bisa ditawar-tawar, jika tidak ingin terpuruk di level paling rendah.
Ia menilai pendidikan adalah salah satu poin penting penentu masa depan ana-anaknya serta status sosialnya kelak di tengah-tengah masyarakat. ”Mungkin kalau punya pendidikan cukup, kehidupan saya tak menjadi penjaga sekolah. Ternyata betapa pentingnya pendidikan,” tutur Supar yang tak mau merinci latar belakang pendidikannya.
Tiga tahun mengabdi sebagai penjaga sekolah, mulai membuka ruangan saat subuh lalu, menyapu kantor guru lalu mengepel beberapa ruangan dan dilanjutkan dengan membersihkan lingkungan sekolah serta menutup kembali setelah pulang sekolah memang masih waktu yang begitu singkat.
Namun pekerjaan ini sudah melekat pada dirinya, sehingga tidak ada lagi istilah malas. Ia tinggal mengingat wajah anak-anaknya saja jika malas datang mendera. Seketika semangatnya akan langsung kembali pulih. Begitulah Supar mengatasi penyakit tersebut.
Dua dari tiga anaknya memang sedang membutuhkan biaya sekolah yang tidak sedikit, apalagi salah satunya di sekolah swasta. Demi anak-anaknya Supar pun seperti penjaga yang tak kenal lelah.
Melihat pentingnya pendidikan, pria yang akrab disapa Pak De di sekolah oleh guru dan siswa di sekolah berkali-kali mengucapkannya. ”Terasa sekali, jika kita berpendidikan rendah, semua pekerjaan akan identik dengan kerja kasar. Ini berat jika dialami mereka, sebagai penjaga sekolah kami juga bagian dari penjaga impian (cita-cita) mereka (siswa),” ujarnya.
Ia mengatakan demikian karena berdasarkan pengalaman yang dia lalui selama mengadu nasib di Batam.
Sejak tahun 1985 Supar sudah menginjakkan kakinya di Batam. Namun hingga sekarang pekerjaannya selalu tidak jauh dari kerja kasar. Mulai dari buruh bangunan, buruh di pelabuhan, mengojek, dan lainnya. ”Pengalaman kerja kasar sudah ibata obat anti nyamuk, mutar-mutar. Tapi ketekunan membuat saya masih bertahan sampai sekarang,” kata pria yang juga dekat dengan siswa-siswa di sekolah itu.
Sulitnya ekonomi di level rendah itu membuat Supar warga Kavling Baru Blok A4 No 54 harus bekerja lebih giat lagi demi anak-anaknya. Ia sangat tidak ingin anak-anaknya putus sekolah. Setidaknya, tiga anaknya tersebut diharapkannya lulus selevel SMA. Karena dengan ijazah SMA sudah bisa bekerja di sebuah perusahaan.
Seperti anak pertamanya Rusmiati (18) yang berhasil lulus SMA. Sekarang gadis pertamanya itu juga sudah mendapat penghasilan setelah diterima bekerja di salah satu perusahaan di Mukakuning. ”Alhamdulillah, Rusmini sudah bisa membantu ekonomi keluarga kami,” katanya bangga. Supar juga tak habis-habisnya memberikan nasehat pada putrinya agar tidak lupa dengan kondisi ekonomi keluarganya yang miskin.
”Saya selalu menasehatinya (Rusmiati, red), agar tidak boros menggunakan uang. Maklumlah Batam kan penuh dengan godaan-godaan. Saya selalu bilang jangan pernah lupa asal keluargamu. Jangan lupa kacang akan kulitnya. Senangnya sampai saat ini (dia) masih bisa dibilangin,” katanya.
Dia sangat bersyukur anak-anaknya tidak ada yang membuat dirinya kerepotan meski tak berprestasi di sekolah. Aji Prianto (16) dan Toni Riskito (13) masih duduk dibangku sekolah. Satu di SMK Teladan Batuaji dan satunya di SMP 21, tempat Supar bekerja. Harapannya, profesi ketiga anaknya tidak mengikut jejaknya.
”Mereka harus bisa, jangan seperti bapaknya pekerja kasar. Saya juga tidak ingin melihat hidup mereka seperti saya. Makanya di sekolahkan,” harapnya. Bahkan, rumah Supar yang membutuhkan perbaikan tidak diprioritaskan karena lebih mementingkan biaya untuk sekolah anak-anaknya. Rumah yang di atas lahan seluas 10 x 6 meter hasil ganti rugi saat tinggal di ruli Pelita dibangun seadanya.
Memang sudah beton permanen, tapi terlihat masih butuh polesan agar sedikit lebih bagus. Rumah belum bisa selesai dibangun, plafonnya belum ada, belum juga di keramik karena biayanya untuk sekolahin anak. ”Memang saya bukan bermaksud berlebihan, tapi katanya kalau punya impian selalu bikin kita semangat bekerja,” ujarnya sembari tersenyum.
Nah, untuk meraih impian itu Supar mengaku selalu menjaganya dengan cara serius bekerja di SMP Negeri 21 Batam. Yakni mengawasi sekolah dengan areal lahan sekitar dua hektar itu setiap harinya. Bahkan saat malam yang bukan tugasnya jaga, Supar tetap saja datang untuk membantu menemani temannya yang jaga malam ronda.
”Hanya saja memang tidak sampai subuh. Sekitar tengah malam saya pamit pulang, karena besoknya bekerja lagi. Untung saja rumah dekat sehingga bisa datang sebentar-sebentar melihat sekolah,” katanya.
Ternyata Supar tidak hanya bertugas membersihkan ini dan itu. Banyaknya kejadian kebakaran belakangan ini menjadi perhatian pihak sekolah. Mereka pun, diharapkan bisa lebih mawas diri dan semakin meningkatkan kesadaran terhadap beratnya tugas dan tanggung jawab yang mesti diemban dalam mengawal keamanan sekolah khususnya diwaktu malam hari. Karena memang hal-hal yang tidak diinginkan dapat terjadi kapan saja dan tanpa diduga.
Guru juga meminta padanya maupun Darwoto untuk selalu mengawasi siswa agar tidak melarikan diri alias bolos dengan cara melompat pagar saat jam belajar. Tugas ini memang sedikit lebih susah. Karena bagian belakang saja yang baru di pagar.
Itupun siswa masih saja mudah melompatnya kalau mau. Karena pagarnya tidak tinggi. Sedangkan bagian depan sekolah memang masih belum berpagar. Sehingga jika guru atau penjaga sekolah lalai, siswa boleh saja dengan mudah bolos dari sekolah. Ia mengaku beberapa waktu lalu siswa pernah bolos dengan melompat pagar. Tapi sekarang sudah tidak pernah lagi, setelah diingatkan mereka dan diberitahu pada gurunya.
Gaji yang diterima Supar sebesar upah minimum kota (UMK) Rp 960 ribu setiap bulan. Berdasarkan kebutuhan layak hidup di Batam kata dia gaji tersebut memang tidak mencukupi menghidupi seorang istri dan tiga anaknya. Padahal istri Supra, Sawitri juga sudah bekerja sebagai karyawan operator di salah satu perusahaan di Mukakuning pun tidak mengubah kehidupan mereka.
Semuanya serba terbatas dan pas-pasan. Karena itu, ia pun memilih berprofesi ganda yaitu sebagai penjaga sekolah sekaligus tukang ojek. Ia mengojek setelah pulang sekolah. ”Penghasilan dari ojek kan tidak seberapa. Karena paling nganterin bu guru dan siswa. Itupun kalau diminta. Ya hasilnya cuman bisa beli bensin dan rokok-lah,” akunya tanpa mematok bayaran setiap membawa tumpangan.
Saking hidpnya pas-pasan, Supar mengaku sering menemui pihak keuangan sekolah untuk memohon pinjaman. Bahkan saking seringnya ia tidak bisa menghitung sudah berapa kali meminjam uang ke sekolah itu. Ia pun mengembalikan dengan sistem cicilan potong gaji. ”Pihak sekolah memang sudah cukup baik pada saya,” ujarnya.
Bahkan satu peristiwa yang tak bisa dilupakannya. Yaitu saat putrinya Rusmiati mau lulus sekolah. Pihak sekolah mengharuskan untuk menebus ijazah dan dokumen lainnya bisa diambil setelah menyetor uang sebesar Rp300 ribu. Saat itu mereka tak punya uang, sementara waktu pengambilan dokumen juga dibatasi.
”Sempat kelimpungan, tapi untung pihak sekolah tempat saya kerja mau memberi pinjaman tanpa kerumitan, ijazah dan berkas-berkas Rumiati bisa kami ambil,” katanya.
Ironisnya, meski Supar dan istrinya Sawitri bekerja, namun ia mengaku mereka tidak punya tabungan. ”Kalau butuh uang pasti pinjam ke sekolah,” tambahnya.
Putrinya yang kini bekerja sebagai karyawan ini sudah membantu keuangan keluarganya.
”Lebaran kemarin putri saya yang membelikan baju,” ujarnya haru bercampur bangga.
Ia mengaku masih betah bekerja sebagai penjaga sekolah. ”Saya juga masih ingin mengawasi anak saya serta yang lainnya,” paparnya. *** Read More.. Read more!

Terima Cacian Sudah Hal yang Biasa

Friday, October 17, 2008

Berhasil menyelamatkan jiwa korban kebakaran dan memadamkan api serta menyelamatkan dokumen dan benda menjadi kepuasan tersendiri bagi para petugas PBK.
Namun menjadi petugas yang selalu berhadapan si jago merah itu tidak lah mudah, butuh ketahanan fisik yang prima juga harus memiliki pengalaman dengan api jika tidak menjadi korban keteledoran dan kecerobohan sendiri.
“Menjadi petugas PBK juga harus memiliki teori pemadaman, jadi tidak asal semprotkan air,” ujar Kasi Pencegahan dan Pengendalian Kantor Pemadam Kebakaran Kota Batam, Samudro.
Menjadi petugas PBK selama 24 tahun bukan waktu yang pendek. Banyak cerita yang ia peroleh dari tugasnya itu. Mulai menyelamatkan nyawa orang hingga dicaci karena dinilai terlambat menangani kebakaran.
Cacian yang keluar dari mulut korban yang tengah panik, sudah dianggap mereka bagian daripada pekerjaan.
Jika orang yang sedang panik, justru masalah yang akan bertambah.
“Karena itu cacian sudah kejadian yang biasa bagi kami,” tutur Samudro yang juga mantan dari petugas PBK OB ini.
Menurut mereka menjalankan tugas bukan tidak ada kendala yang dihadapi. Mulai dari terlambatnya datang informasi, macetnya lalu lintas, serta sulitnya mencapai lokasi kebakaran menjadi kendala utama dalam setiap menjalankan tugas. Tetapi semua itu dilalui kebersamaan oleh petugas PBK.
Dalam menjalan tugas petugas PBK juga harus berkordinasi dengan instansi seperti PLN, ATB, rumah sakit dan juga kepolisian. Agar dalam menjalankan tugas tidak menemui kendala.
Misalnya pada PLN. Jika terjadi kebakaran yang diakibatkan oleh arus pendek, pihaknya harus berkordinasi dengan PLN untuk melakukan pemadaman listrik.
“Jika tidak dipadamkan petugas PBK bisa jadi korban sentruman arus listrik,” ujarnya. (ray)


Dilapangan kata Samudro masing-masing petugas selalu kompak dan tidak memiliki birokrasi yang rumit saat dalam bekerja. Karena itu “Fire fighter adalah brotherhood,” ungkapnya.
Dari selama 24 tahun bertugas di PBK Batam, satu kejadian yang tidak terlupakan olehnya dan juga rekan-rekan seperjuangannya. Adalah pada saat kebakaran besar yang terjadi di salah satu pusat pertokoan di Nagoya beberapa tahun lalu. Mereka memadamkan api hingga pagi. Pada peristiwa mengenaskan itu sebanyak sembilan orang meninggal dunia.
“Kita baru tahu ada sembilan orang yang meninggal, setelah paginya. Kita bahkan tidak tahu telah menginjaknya,” kenang Samudro, yang juga dibenarkan Kepala PBK Wilayah Sekupang, Jamalus.
Samudro yang juga turun pada pemadaman kebakaran dua titik pada Rabu (9/10) lalu di Tembesi dan Seipanas ini mengakui sampai sekarang pihaknya belum memiliki armada untuk berperang. Maka itu setiap kejadian pihaknya baru bisa melakukan koordinasi dan turun kelapangan membantu petugas PBK OB memadamkan api.
Pada umumnya Samudro berpesan agar masyarakat memperhatikan hal-hal yang dianggap sepele seperti seperti lupa mematikan kompor minyak, kabel instalasi dan kebocoran gas.
Karena selama ini kejadian kebakaran di Batam kebanyakan disebabkan oleh human error atau yang disebabkan oleh manusia. Seperti teledor mematikan kompor minyak atau tidak memeriksa tabung gas yang bocor. “Masyarakat harus lebih teliti,” ucapnya.
Selain menyelamatkan jiwa dan benda, petugas PBK juga menyelamatkan meluasnya kebakaran hutan, yang entah sudah berapa banyak yang terbakar. Kesulitan dalam memadamkan kebakaran hutan pernah membuatnya kewalahan. “Misalnya mencapai titik api ke tengah hutan dengan area yang sulit, semua itu pernah dilewati,” katanya.
Setelah 24 tahun bertugas di PBK OB, kini dia ditempatkan di PBK Batam. Meski belum punya armada, namun mereka bergabung dengan PBK OB saat kebakaran terjadi dimana saja. Ia hanya berharap PBK Batam yang baru terbentuk dua bulan yang lalu bisa memiliki armada.
“Sehingga kita bisa membantu PBK OB,” tuturnya. Read More.. Read more!

Ratusan Hidran Tak Berfungsi

Ada persepsi yang salah bahwa proteksi kebakaran cukup dengan penyediaan alat-alat pemadam saja. Tidak cukup hanya menyediakan, tetapi juga wajib pada perawatannya. Kendala inilah yang ditemui PBK OB saat berjuang memadamkan api yang melalap Carnaval Mall, pekan lalu. Tempat penampungan air yang disediakan oleh pengelola juga tidak berfungsi saat digunakan. Sarana proteksi kebakaran tidak berfungsi dengan baik. Baik di dalam maupun di luar gedung.
”Pompa di tanki air mall itu rusak. Inilah satu kendalanya, tidak ada perawatan, sehingga saat emergensi tidak dapat difungsikan dan akibatnya fatal,” ungkap Kasat PBK OB Kompol Gunadi.
Gunadi menjelaskan sarana proteksi kebakaran yang di luar adalah jenis hidran. Pipa ini biasa dilihat di pinggir-pinggir jalan dan gedung. Termasuk di Carnaval Mall ada tiga hidran. Tapi parahnya ketiga hidran itu katanya tidak bisa digunakan, airnya tidak ada.
Tiga bulan yang lalu, lanjut Gunadi bersama-sama dengan PBK kota Batam, melakukan pemeriksaan seluruh hidran di kota Batam. Parahnya dari hasil pemeriksaan itu, ditemukan tidak semua hidran (titik sumber air untuk pemadam kebakaran) dalam kondisi baik dan memiliki air yang cukup.
Malah, ”Ratusan hidran yang berada di pinggir jalan saat ini dinyatakan tak berfungsi. Mulai air tak mengalir, hingga pipa tak bisa digunakan,” ujarnya. Menurut Gunadi kerusakan itu adalah tanggung jawab daripada pengelola baik kawasan industri, perumahan, pertokoan, gedung tinggi dan pusat perbelanjaan.
Sementara untuk menangani kebakaran hutan, pada dasarnya PBK menggunakan sistem supplay, karena tidak ada hidran menuju hutan. Tapi ke depan untuk menjamin ketersediaan air, kata Gunadi, master plan sumber air untuk pemadaman kebakaran ini mestinya dijadikan bagian dari master plan kota keseluruhan.
Namun masalahnya bukan sekadar jumlah dan kondisi peralatan. Konsekuensi dipasangnya sarana proteksi kebakaran adalah adanya jaminan bahwa peralatan itu senantiasa siaga. Selain permasalahan dengan hidran, ternyata infrastruktur juga menjadi kendala yang berarti bagi petugas PBK. Jalan-jalan di kota Batam sempit sehingga susah menjangkau lokasi kebakaran.
”Apalagi kesadaran masyarakat kurang. Kalau ada kebakaran langsung menonton, kita pun jadi terganggu untuk memadamkan api,” ujarnya sambil tersenyum.
Tidak berfungsinya alat menunjukkan kurang diperhatikannya aspek pemeriksaan dan pemeliharaan. Untuk meminimalkan terjadinya kebakaran, manajemen keamanan kebakaran atau fire safety management (FSM) menjadi sangat mendesak untuk dilakukan.
”hAda persepsi yang salah pada masyarakat bahwa proteksi kebakaran cukup dilakukan dengan menyediakan detektor, alat pemadam ringan, dan hidran,” ujarnya.
Menurut Gunadi, setiap bangunan harus memiliki sarana proteksi kebakaran. Mulai hidran, fire alarm, sprinkler hingga lain-lainnya. Karena semua itu diatur baik adalam undang-undang maupun peraturan pemerintah. Diantaranya Keputusan Menteri PU Nomor 11 Tahun 2000 juga diatur dalam UU Nomor 28 Tahun 2002 Tentang Bangunan Gedung.
Kemudian PP Nomor 36 Tahun 2005 mengenai pelaksanaan UU Bangunan. Ada lagi Kepmen Tenaga Kerja. Tapi sebenarnya lebih mengacu kepada Kepmen PU karena menyangkut bangunan dan keselamatan orang. Sementara Kepmen Tenaga Kerja hanya manusianya saja.
Pencegahan dapat dilakukan dengan sistem proteksi kebakaran standar. Sarana proteksi kebakaran terdiri atas sistem proteksi aktif dan pasif. Alat pemadam api ringan merupakan salah satu sarana proteksi aktif, seperti menyediakan racun api. Di rumah siapkan saja yang kecil dan anggap saja investasi.
”Harga sarana proteksi kecil tentu tak sebanding dengan yang diakibatkan kebakaran. Kalau terbakar justru kerugian bisa lebih besar,” ungkapnya. Read More.. Read more!

Tidak Lagi Sekadar Memadamkan Api

Ungkapan ”kecil jadi kawan, besar jadi lawan” masih digunakan unit Pemadam Bahaya Kebakaran (PBK) Otorita Batam (OB) setiap sosialisasinya ke masyarakat.
Dahsyatnya sebuah musibah kebakaran yang dapat menghanguskan harta benda sekaligus jiwa manusia sebenarnya bisa diantisipasi melalui kewaspadaan masyarakat. Begitulah yang diungkapkan Kasat PBK OB Kompol Gunadi dalam pertemuan dialog Batam Forum yang diadakan Batam Pos, Rabu (8/10) di kantor Otorita Batam, Batam Centre. ”Aksi yang cepat dan tepat bisa menghambat perambatan api menjadi besar disamping peranan maksimal armada PBK dalam menanggulanginya,” ungkapnya.
Gunadi menjelaskan di kota Batam masih banyak pengelolaan sarana proteksi kebakaran di wilayah pertokoan, perumahan, gedung-gedung dan mall belum memenuhi standar. Padahal, bagi perusahaan asuransi, standar akan menjadi referensi penting.
Melihat pertumbuhan bangunan dan penduduk Kota Batam yang semakin pesat, jumlah pos yang tersebar sekarang juga kurang memadai. Sampai sekarang baru ada tujuh pos PBK tersebar di pos Duriangkang, Sagulung, Sekupang, Batuampar, Seipanas, Nongsa, Punggur dan Tanjunguncang.
Tujuh pos ini menurut Gunadi tidak lagi ideal. Sebab jumlah kawasan industri, perumahan, pertokoan, dan pusat perbelajaan bertambah di mana-mana. ”Pos PBK sebanyak itu belum memadai karena kita tahu sendiri seperti apa perkembangan fisik bangunan dan penduduk di Batam,” urainya.
Dengan kondisi sarana dan personil yang sekarang, Gunadi mengaku pihaknya belum menemui kendala yang sangat berarti dari sisi internal. Bahkan saat penangan kebakaran di gedung setinggi Planet Holiday Hotel.
Tetapi kekurangan-kekurangan sekarang harus cepat-cepat di antisipasi. Karena ke depan keberadaan PBK di kota Batam bukan lagi hanya sekadar memadamkan api. Bagaimana pun, peranan pemadam kebakaran sangat penting untuk membantu investasi di kota ini. Investor juga melihat hal-hal kemampuan PBK dalam mengelola penanggulangan kebakaran. ”Dan kita pernah ditanyakan Investor dari Jerman tentang kecepatan PBK Batam sampai di lokasi kebakaran,” katanya.
Seperti di ibu kota negara Korea Selatan, Seoul, dalam waktu 5 menit sudah sampai di lokasi kebakaran. Itu waktu yang ideal. Seoul bisa mencapainya karena radius 1 km ada pos. Di Batam radius antara pos masih sekitar 7,5 km. Jarak tempuh juga baru bisa dicapai standar di Indonesia yakni 15 menit. Mulai terima informasi hingga tiba di lokasi kebakaran. ”Itu memang standar Indonesia, PBK Jakarta saja belum bisa capai lokasi dalam 15 menit,” tuturnya.
Batam memang belum mampu seperti Seoul, tetapi ke depan PBK OB harus bisa mempersingkat waktu sampai ke lokasi kebakaran. Mau tidak mau harus memperbanyak pos-pos di setiap kawasan kota. Idealnya, jika dilihat dari luas wilayah dan jumlah penduduk, sekurang-kurangnya mobil harus ada 16 unit atau menambah delapan unit lagi, dan personil sekitar 200-an orang.
Jadi kalau ada kebakaran, unit-unit terdekat sudah bisa bergerak menanggulanginya.Tidak lagi menunggu armada dari pusat dulu baru apinya disiram.
Sekarang jumlah personel yang ditempatkan di tujuh pos itu ada sebanyak 131 orang. Saat bertugas mereka dibagi dalam tiga giliran setiap jaga, dengan komposisi satu unit kendaraan diawaki enam orang. Dari tujuh pos itu, mobil PBK ada sebanyak delapan unit mobil pompa dan dua unit mobil tangga.
Armada yang dimiliki juga tidak memiliki tekanan air yang merata. Armada pompa paling bagus yang baru dimiliki PBK OB bertekanan 10 bar. Tapi Gunadi mengaku pompa yang sekarang sudah cukup bagus. Tapi bukan berarti ke depan tidak butuh yang lebih bagus. Gunadi mengaku beberapa peralatan seperti selang sudah ada yang rusak dan minta ganti. ”Kita butuh yang baru,” kata Gunadi.
PBK baru punya jenis pemadaman semprot air, sedang jenis foam baru digunakan di bandara saja. Terkait teleponusil, ”Alhamdulillah berhasil, sekarang telepon usil sudah berkurang,” tuturnya. ***





Kendala yang cukup mengganggu adalah telepon palsu dari orang-orang usil. Entah kenapa mereka itu suka sekali mengganggu kerja PBK OB. Kita sudah melakukan upaya setiap kali mendapat gangguan telepon tersebut. Untuk mengurangi telepon usil seperti itu, PBK OB telah koordinasi dengan Telkom bagaimana cara mengatasi. ”Alhamdulillah berhasil, sekarang telepon usil sudah berkurang,” tuturnya.
Bagaimana koordinasi dengan instansi terkait lainnya dalam hal penanggulangan kebakaran? Selama ini koordinasinya dengan berbagai instansi tetap berjalan baik. Termasuk dengan PBK Pemko Batam yang memang belum memiliki armada sama sekali. Juga dengan kepolisian, TNI ataupun kehutanan, tetap berjalan dengan baik. Perhatian Otorita Batam terhadap PBK juga sangat bagus. Terakhir ada pesawat heli milik OB yang setiap saat dibutuhkan bisa digunakan untuk memadamkan kebakaran. Yang penting dengan keberadaan kantor PBK Pemko bisa bersinergi membangun yang kurang-kurang saat ini.
Bahkan ke depan lanjut Gunadi fire fighter sudah sepatutnya memiliki kemampuan juga untuk menanggulangi bencana-bencana lain, seperti penanggulangan bencana alam, kecelakaan lalu lintas, seperti yang ada di beberapa provinsi lain. “Ke depan kita sudah bisa menanggulangi segala bencana, baik yang diakibatkan oleh alam maupun perbuatan manusia dan kita tidak lagi sekadar memadamkan api,” ucapnya.
Perlahan tapi pasti, PBK OB juga terus melatih personilnya untuk peningkatan SDM. Kemudian secara berangsur-angsur armadanya dilengkapi, karena peralatan juga menyangkut pembiayaan. Sebab untuk berbuat yang lebih bagus haruslah didukung dengan anggaran yang memadai. *** Read More.. Read more!

Banyak Request Ayat Quran tentang Musibah

Pasca-Kebakaran yang Menimpa Radio Hang 106 FM

”Selamat siang pendengar setia radio Hang106 FM. Di sini kami kembali mengudara untuk Anda. Kami mohon maaf, tidak dapat menyuguhkan cerita salah satu dari 60 biografi ulama’salaf yang semestinya Anda dengarkan siang ini. Berhubung karena buku tersebut ikut terbakar pada kejadian yang lalu, sebagai gantinya kami menyuguhkan cerita kisah Malik bin Sinan, Lelaki yang Dijamin Surga”.
Demikian Abu Zahroh menyapa pendengar setia Hang FM saat mengawali membuka siaran, Kamis siang lalu, saat Batam Pos berkunjung ke mesjid Sabilun Najaah kantor baru yang kini digunakan Hang106 FM mengudara pasca kebakaran.
Radio ini bertempat di lantai dua mesjid Sabilun Najaah, Merapi Subur Batuaji. Hanya satu stiker kecil bertuliskan Radio106 Hang FM menempel di pintu yang sekaligus pintu masuk studio. Itulah yang menandakan itu studio mini Hang FM.
Tak lama seseorang keluar dari dalam studio itu. Terakhir diketahui itu adalah Abu Anas bagian Teknisi studio. Setelah mengobrol beberapa menit, dia pun mempersilakan masuk studio. Di dalam telah ada Abu Zahroh penyiar yang sibuk siaran membacakan buku kisah heroik Malik bin Sinan di jamannya dulu.
Studio itu sempitnya bukan main yaitu seukuran 5 x 4 biji kotak keramik ukuran 60 cm dibentang. Seluruh dinding dilapisi pengedap suara yang terbuat dari busa setebal 5 cm. Di dalamnya hanya ada dua meja mini yang menjadi tempat dua unit komputer. Satu untuk penyiar dan satu lagi untuk digunakan teknisi. Dan juga ada Alquran ukuran kecil dan beberapa buku tafsir tentang Alquran.
Meja itu juga sekaligus sebagai tempat peralatan elektronik seperti mixer, amplifier, speaker mini, dan peralatan lainnya. Meski sempit, tapi suasana tetap nyaman, karena satu unit pendingin udara senantiasa menyejukkan hawa studio.
Disela-sela Zahroh sibuk siaran, Abu Anas bertutur bahwa studio mini dulunya berperan hanya sebagai relay. Maksudnya, setiap hari pukul 06.00 WIB dan pukul 20.00 WIB pengajian di mesjid itu langsung di relay ke studio pusat di Batam Centre (sebelum terbakar) untuk disiarkan langsung kepada masyarakat. “Tapi sekarang sudah disiarkan dari sini semua,” ungkapnya.
Dulu studio mini itu hanya berdaya 30 watt, dan sekarang telah dibesarkan menjadi pemancar utama berdaya 300 watt. Jangan ditanya setiap hari Selasa pada pukul 08.00 WIB hingga pukul 09.00 WIB studio itu akan ramai dengan telepon masuk.
Maklum karena jam tersebut, adalah jadwal siaran interaktif, Quran by request dan Hadis by request. Dua siaran ini merupakan favorit dari segala batasan usia. By request itu banyak yang minta ayat Alquran mengenai musibah.
”Volume permintaan juga lebih besar dibanding sebelumnya. Mungkin ini karena Hang FM juga baru mengalami musibah,” katanya. *** Read More.. Read more!